Tafsir Surat AlQodr
{إِنَّا أَنزلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (١) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (٢) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (٣) تَنزلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (٤) سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (٥) }
===============
PENJELASAN:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam lailatulqadar.” (QS. Al-Qadar: 1)
﴿اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ، خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ، اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ، الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ﴾
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5)
Apa sebab disebut dengan malam Al-Qadar? Ada tiga makna yang disebut oleh para ulama tentang makna lailatulqadar: ([2])
Pertama: Al-Qadar disebut Asy-Syaraf (اَلشَّرَف) yang berarti mulia.
Kedua: Al-Qadru (اَلْقَدْرُ) yang memiliki makna takdir. Hal ini dikarenakan setiap malam lailatulqadar Allah ﷻ menetapkan takdir sanawi (takdir tahunan).
﴿إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ، فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ﴾
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad-Dukhan: 3-4)
Ketiga: Al-Qadar artinya Adh-Dhayyiq (اَلضَّيِّقُ) atau Adh-Dhiiq (اَلضِّيْقُ) yang bermakna sempit.
﴿وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ﴾
“Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata, ‘Tuhanku menghinakanku’.” (QS. Al-Fajr: 16)
﴿إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَاءُ وَيَقْدِرُ﴾
“Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya.” (QS. Al-Isra’: 30)
﴿لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِ وَمَن قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا﴾
“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. Ath-Thalaq: 7)
﴿وَذَا النُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَن لَّا إِلَٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ﴾
“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: ‘Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim’.” (QS. Al-Anbiya’: 87)
Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan ayat pertama dalam surah Al-Qadar ini. Ada dua pendapat yang masyhur di kalangan para salaf:
Pendapat pertama adalah pendapat Ibnu Abbas bahwa maksudnya adalah kami (Allah) menurunkan Al-Qur’an yang sudah tercatat di Lauhul Mahfuzh ke baitul ‘Izzah di langit dunia secara menyeluruh.
قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَغَيْرُهُ: أَنْزَلَ اللَّهُ الْقُرْآنَ جُمْلَةً وَاحِدَةً مِنَ اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ إِلَى بَيْتِ العِزّة مِنَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا، ثُمَّ نَزَلَ مُفَصَّلًا بِحَسْبِ الْوَقَائِعِ فِي ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ سَنَةً على رسول الله صلى الله عليه وسلم.
--------
ص441 - كتاب تفسير ابن كثير ت السلامة - القدر - المكتبة الشاملة
Pendapat kedua mengatakan bahwa malam lailatulqadar adalah awal turunnya Al-Qur’an. Ini adalah pendapat Asy-Sya’bi dari kalangan tabiin.
Kedua pendapat ini tidaklah bertentangan, karena keduanya menyimpulkan bahwasanya Al-Qur’an turun pada malam lailatulqadar.
قَالَ: ثنا عَمْرُو بْنُ عَاصِمٍ الْكِلَابِيُّ، قَالَ: ثنا الْمُعْتَمِرُ بْنُ سُلَيْمَانَ التَّيْمِيُّ، قَالَ: ثنا عِمْرَانُ أَبُو الْعَوَّامِ، قَالَ: ثنا دَاوُدُ بْنُ أَبِي هِنْدَ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، أَنَّهُ قَالَ فِي قَوْلِ اللَّهِ: {إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ} [القدر: ١] قَالَ: نَزَلَ أَوَّلُ الْقُرْآنِ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
--------
ص543 - كتاب تفسير الطبري جامع البيان - المكتبة الشاملة
==========
﴿وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ﴾
“Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?” (QS. Al-Qadar: 2)
Ungkapan ini menunjukkan bahwa malam tersebut memiliki keagungan yang sangat dahsyat.
Kemudian, Allah ﷻ menjelaskan keistimewaan malam tersebut. Keutamaan yang pertama telah dijelaskan dalam ayat sebelumnya, yaitu Allah pilih malam tersebut sebagai malam untuk turunnya Al-Qur’an
Al-Qur’an selalu berkaitan dengan yang spesial dan terbaik. Al-Qur’an adalah firman Allah dan perkataan yang terbaik adalah firman Allah. Al-Qur’an juga turun melalui malaikat yang terbaik yaitu malaikat Jibril. Al-Qur’an juga turun kepada nabi yang terbaik yaitu Nabi Muhammad ﷺ. Al-Qur’an juga turun di bulan terbaik yaitu bulan Ramadan. Al-Qur’an juga turun di kota terbaik yaitu Makkah. Kemudian, Al-Qur’an diturunkan di malam hari, maka jadilah malam tersebut menjadi malam yang terbaik, yaitu malam lailatulqadar.
==========
﴿لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ﴾
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadar: 3)
أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ، إِلَى السَّبْعِينَ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ
“Umur umatku di antara enam puluh sampai tujuh puluh, hanya sedikit yang melebihinya.” (H.R. Tirmidzi: 3473)
نَحْنُ الْآخِرُونَ الْأَوَّلُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَنَحْنُ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ، بَيْدَ أَنَّهُمْ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِنَا، وَأُوتِينَاهُ مِنْ بَعْدِهِمْ
“Kita (umat Muhammad) adalah yang terakhir (datang ke dunia), tetapi yang terdahulu (diadili) pada hari kiamat. Kita adalah yang paling dahulu masuk surga, padahal mereka diberi kitab lebih dahulu dari kita, sedangkan kita sesudah mereka.” ( H.R. Muslim: 1413)
==========
﴿تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ، سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ﴾
“Pada malam itu turun para malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadar: 4-5)
﴿مَا نُنَزِّلُ الْمَلَائِكَةَ إِلَّا بِالْحَقِّ وَمَا كَانُوا إِذًا مُّنظَرِينَ﴾
“Kami tidak menurunkan malaikat melainkan dengan benar (untuk membawa azab) dan tiadalah mereka ketika itu diberi tangguh.” (QS. Al-Hijr: 8)
Demikian pula Allah ﷻ mengirimkan malaikat yang membawa azab kepada kaum Nabi Luth ‘alaihissalam. Allah ﷻ berfirman dalam surat Al-Furqan,
﴿يَوْمَ يَرَوْنَ الْمَلَائِكَةَ لَا بُشْرَىٰ يَوْمَئِذٍ لِّلْمُجْرِمِينَ وَيَقُولُونَ حِجْرًا مَّحْجُورًا﴾
“Pada hari mereka melihat malaikat di hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa mereka berkata: ‘Hijraan mahjuuraa’.” (QS. Al-Furqan: 22)
﴿جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍ، سَلَامٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ﴾
“(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan), ‘Keselamatan atas kalian karena kesabaran kalian’. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d: 23-24)
إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ، فَقَالَ لَهُ: اكْتُبْ قَالَ: رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ
“Sesungguhnya yang pertama kali yang Allah ciptakan adalah pena, lalu Allah berfirman kepadanya: ‘Tulislah!’ pena itu menjawab, ‘Wahai Rabb, apa yang harus aku tulis?’ Allah menjawab: ‘Tulislah semua takdir yang akan terjadi hingga datangnya hari kiamat’.” (HR. Abu Daud No. 4078)